Minggu, 28 Desember 2014

Goresan kehidupan



Goresan pena menyelimuti hati
Membuka sepucuk harapan yang tersimpan rapi
Memberi warna baru dalam kehidupan
Menaklukan setiap tantagan dalam balutan gelora
Menyerupai waktu yang kian tak pasti
Langkah ini menjadi awal baru
Untuk menuju ke imipian baharu
Menjadi modal awal dalam menapak kaki
Inillah waktunya
(Muhammad Mufti Farabi, 07 Desember ’14)


Merangkai Sang Merpati 



Hidup,
Melewati hari demi hari kian sulit
Hanya menyisahkan setangkai kebahagian
Yang sulit ditebak arah tujuannya
Bunyi angin mulai menyaringkan telinga
Memberi suatu tanda yang membingungkan hati
Membuat raga ini menjadi tak tahu arah dan tujuannya
Satu demi satu mulai terankai kembali
Sayap-sayap merpati yang gugur perlahan tumbuh
Seiring waktu yang berputar
Rangkaian merpati ini harus kuat
Demi mencapai satu tujuan
Panggung dua dunia

(Muhammad Mufti Farabi, 25 November 2014)

Senin, 21 April 2014

Sang Pahlawan
Oleh : Muhammad Mufti Farabi


Tiap langkah dalam hidupku
Kuhabiskan untuk terus menuntut ilmu
Dengan besusah dari lubuk hatiku
Menjadi lebih baik dari masa lalu
    

                                      Engkaulah sang pembimbing diriku
                                      Ketika aku sedang malu
                                      Untuk mencapai keinginanku
                                      Dalam hati sanubariku


Semangatmu menginspirasi jiwaku
Gebrakanmu menumbuhkan semangatku
Mungkin hanya doa yang dapat kuberikan
Untuk sang pahlawan
Oh Guruku.........


Kamis, 13 Maret 2014

Negeri ini......



Negeri Seribu Cerita
Oleh : Muhammad Mufti Farabi


            Indonesia, negeri yang kaya akan segalanya, kekayaan alamnya, pulaunya, wilayahnya, jumlah penduduknya dan bahkan masih banyak lagi yang belum disebutkan. Di sisi lain, negeri ini juga kaya akan cerita, baik cerita yang membuat hati berdecak kagum maupun yang mengiris hati. Ya, satu hal yang patut kita cermati dari semua kelebihan yng dimiliki oleh negara kita adalah begitu banyaknya kisah yang menjadi bahan perbincangan publik kita.
            Tidak tangung-tanggung, setiap tahun selalu ada cerita yang dipetik, seperti kasus korupsi yang terus mengiris hati masyarakat Indonesia, bencana alam, gaya hidup, teknologi serba mutakhir, dan sebagainya. Ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi kita. Mengapa menjadi sebuah tantangan?
            Disnilah kita diajak untuk berpikir secara realistis akan yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Kehidupan politik yang ada di lingkungan sekitar kita juga menjadi sebuah godaan tersendiri bagi kita. Ketika kita telah terjerumus dengan pemikiran politik, maka tindakan kita lambat laun akan berubah. Ya, sandiwara akan menjadi teman dekat kita setelah bergabung disana. Pemikiran yang rasional akan mengubah cara pandang kita ke arah yang lebih baik lagi. Perlu adanya sortir atau pemilihan  bahan agar kita tidak menyesal di belakang hari.
            Oleh seba itu, hanya rakyat yang berpikiran rasional saja yang mampu mrnjadi pendasi utama bagi sebuah Negara. Apapun itu, Negara perlu pemikiran-pemikiran yang rasional dari rakyatnya. Ya, inilah negeri kita, negeri dengan seribu cerita yang tak akan pernah habis hingga akhir massa.

Sabtu, 01 Maret 2014

Surat Untuk Indonesia

Ujian Nasional, Antara Kejujuran dengan Kebohongan


            Tinggal menghitung hari, ujian nasional akan segera datang kepada pelajar di seluruh Indonesia, mulai dari SD sampai SMA. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aktivitas para pelajar di Indonesia meningkat dari biasanya. Ya, mereka sekarang tengah berkonsentrasi untuk bisa meraih hasil yang terbaik guna mencapai impian yang mereka idam-idamkan. Terkhusus untuk siswa SMA menganggap bahwa ujian nasional ini merupakan titik awal menuju petualangan yang nyata untuk meraih cita-cita.
            Tetapi, ujian nasional bukan hanya sekedar untuk meraih nilai tinggi, tetapi kekuatan mental juga diuji disini. Belajar 3 tahun harus diselesaikan dengan ujian yang hanya 3 hari, tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa yang akan menjalaninya. Apalagi tingkat kesulitan dari ujian nasional dari tahun ke tahun terus meningkat. Dari 1 paket, 2 paket, 5 paket, hingga sekarang sudah 20 paket. Tentu tidak jarang banyak anak sekolah yang merasa terbebani dengan ujian nasional ini. Banyak dari mereka yang sangat keberatan dengan adanya ujian nasional ini. Logikanya sangat sederhana, belajar 3 tahun harus diselesaikan dengan ujian yang hanya menelan waktu 3 hari, tentu bukan perkara yang mudah untuk menyelesaikan soal ujian nasional ini, karena disini siswa dituntut untuk bisa meraih nilai yang terbaik supaya bisa lulus dari sekolahnya. Makanya, tak jarang banyak siswa yang tidak lulus merasa frustasi dan akhirnya memilih untuk menghabiskan nyawanya dengan bunuh diri sebagai akibat dari rasa frustasinya. Sangat memprihatinkan memang melihat kejadian seperti itu.
            Ada satu fakta menarik lagi yang selalu menjadi tradisi di kalangan siswa. Ya, mencari selembar “kertas ajaib” untuk menyelamatkannya. Walaupun dari Kementrian Pendidikan sendiri telah meningkatkan keamanan dari soal ujian tersebut, tetapi selalu saja soal tersebut dapat bocor dan akhirnya sampai ke tangan siswa. Fakta membuktikan dari tahun ke tahun hal ini selalu saja terjadi.

            Terkadang hati ini bingung, apa yang harus dilakukan. Di satu sisi, hati ini tidak mau melakukan perbuatan itu, tetapi di sisi lain ada sesuatu yang mencoba untuk merasuki hati ini. Berbagai opini pun menyeruak ke kalangan publik dari berbagai elemen  masyarakat dengan upaya untuk menghapus ujian nasional. Ya, ini merupakan sebuah cara agar kebohongan tidak terus ditanamkan. Kita tidak ingin bangsa ini memperoleh generasi dari orang-orang yang tidak baik. Bangsa ini butuh perubahan, perubahan untuk menuju ke arah Indonesia yang lebih baik lagi. Bangsa Indonesia ingin melihat suatu perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang. Kalau dari UN saja sudah tidak jujur, bagaimana nantinya?
            Mungkin sudah saatnya Kementrian Pendidikan harus mulai mengintropeksi sejauh mana kegiatan dari Ujian Nasional agar tidak membebani para pelajar, apakah bermamfaat atau tidak. Satu hal yang perlu menjadi catatan Kemendiknas bahwa bukan hanya Ujian Nasional yang membuat kualitas pendidikan suatu Negara menjadi lebih baik, akan tetapi kualitas yang dimiliki oleh para pelajar.



Sabtu, 08 Februari 2014

GENERASI MUDA GARUDA INDONESIA

Perjalanan ini
            Terasa sangat menyedihkan
            Sayangkan kau tak duduk
            Di sampingku………
            Kawan …………

            Sepenggal lagu tersebut mengandung makna yang cukup berarti bagi bangsa Indonesia . Sudah 68 tahun Indonesia lahir di bumi yang fana ini. Akan tetapi, di saat umur yang semakin tua, semakin banyak rintangan yang ada di depan mata. Perjuangan yang selama ini telah dilakukan oleh para penegak bangsa mulai pudar oleh terkikisnya rasa nasionalisme dan moral yang menjadi aspek yang paling penting bagi negara ini.

            Setiap manusia yang lahir di muka bumi terlahir dengan moral dan akhlak yang bersih. Seiiring berjalan waktu, moral tersebut akan beradaptasi dengan lingkungan yang menjadi tempat untuk membentuk kepribadian diri seseorang. Tetapi, realita yang dihadapi sekarang ini jauh dari harapan, bahkan hampir tidak bisa dibiarkan lagi. Dari pantauan penulis, rata-rata generasi muda sekarang telah masuk dalam zona merah, artinya generasi muda harus segera diselamatkan agar bangsa ini tidak “mati” dalam keadaan yang buruk.

            Terbukti dari tindak tawuran antar pelajar yang tidak mempunyai mamfaat bagi bangsa ini bahkan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Moral menjadi penyebab utama. Moral yang mulai terkikis oleh era globalisasi yang telah “merasuki” setiap orang yang bermain di dalamnya. Di saat sekarang ini, membangun karakter adalah langkah yang sangat diperlukan di era modern saat ini.



            Langkah tersebut harus segera di realisasikan agar tidak menjadi debu yang berterbangan.. Semua orang dapat ikut berperan dalam hal ini. Kita tidak ingin bangsa kita terpuruk kembali ke lembah yang curam bahkan hilang tak tahu kemana.  Gejala ini sudah mulai terasa di lingkungan sekitar kita, terbukti dari pasar industri kita yang sudah mulai dikusai oleh tamu yang tak diundang.

            Melihat secara kacamata rasional, bangsa Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi tuan di rumah sendiri. Terbukti dari berbagai aspek yang mendukung fakta tersebut. Sumber daya manusia yang melimpah ruah dari Sabang sampai ke Marauke menjadi kuncinya. Akan tetapi, semua berawal dari generasi muda. Ketika generasi muda telah mencapai tahap excellent, maka hal ini akan mudah untuk didapat. Sebaliknya, jika generasi muda mencapai tahap yang dikatagorikan badly, maka tidak ada harapan yang dapat kita gantungkan kepada penerus kita selanjutnya. Jika pernyataan yang kedua ini benar-benar terjadi, siap-siap negara kita yang kaya akan segalanya akan menjadi negara boneka di di kawasan dunia. Sungguh memprihatinkan.

            Oleh sebab itu, hidup ini tergantung bagaimana karakter kita, selain aspek lain yang juga mendukung kemajuan suatu bangsa itu sendiri. Ketika berbagai aspek seperti aspek moral, keyakinan, pendidikan, dan sebagainya yang berpengaruh, maka bukan tidak mungkin Indonesia nantinya akan “dikomandoi” oleh para penerus bangsa menjadi Negara superpower di dunia.

            Maju terus Indonesiaku Tercinta !! MERDEKA !!!