Sabtu, 01 Maret 2014

Surat Untuk Indonesia

Ujian Nasional, Antara Kejujuran dengan Kebohongan


            Tinggal menghitung hari, ujian nasional akan segera datang kepada pelajar di seluruh Indonesia, mulai dari SD sampai SMA. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aktivitas para pelajar di Indonesia meningkat dari biasanya. Ya, mereka sekarang tengah berkonsentrasi untuk bisa meraih hasil yang terbaik guna mencapai impian yang mereka idam-idamkan. Terkhusus untuk siswa SMA menganggap bahwa ujian nasional ini merupakan titik awal menuju petualangan yang nyata untuk meraih cita-cita.
            Tetapi, ujian nasional bukan hanya sekedar untuk meraih nilai tinggi, tetapi kekuatan mental juga diuji disini. Belajar 3 tahun harus diselesaikan dengan ujian yang hanya 3 hari, tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa yang akan menjalaninya. Apalagi tingkat kesulitan dari ujian nasional dari tahun ke tahun terus meningkat. Dari 1 paket, 2 paket, 5 paket, hingga sekarang sudah 20 paket. Tentu tidak jarang banyak anak sekolah yang merasa terbebani dengan ujian nasional ini. Banyak dari mereka yang sangat keberatan dengan adanya ujian nasional ini. Logikanya sangat sederhana, belajar 3 tahun harus diselesaikan dengan ujian yang hanya menelan waktu 3 hari, tentu bukan perkara yang mudah untuk menyelesaikan soal ujian nasional ini, karena disini siswa dituntut untuk bisa meraih nilai yang terbaik supaya bisa lulus dari sekolahnya. Makanya, tak jarang banyak siswa yang tidak lulus merasa frustasi dan akhirnya memilih untuk menghabiskan nyawanya dengan bunuh diri sebagai akibat dari rasa frustasinya. Sangat memprihatinkan memang melihat kejadian seperti itu.
            Ada satu fakta menarik lagi yang selalu menjadi tradisi di kalangan siswa. Ya, mencari selembar “kertas ajaib” untuk menyelamatkannya. Walaupun dari Kementrian Pendidikan sendiri telah meningkatkan keamanan dari soal ujian tersebut, tetapi selalu saja soal tersebut dapat bocor dan akhirnya sampai ke tangan siswa. Fakta membuktikan dari tahun ke tahun hal ini selalu saja terjadi.

            Terkadang hati ini bingung, apa yang harus dilakukan. Di satu sisi, hati ini tidak mau melakukan perbuatan itu, tetapi di sisi lain ada sesuatu yang mencoba untuk merasuki hati ini. Berbagai opini pun menyeruak ke kalangan publik dari berbagai elemen  masyarakat dengan upaya untuk menghapus ujian nasional. Ya, ini merupakan sebuah cara agar kebohongan tidak terus ditanamkan. Kita tidak ingin bangsa ini memperoleh generasi dari orang-orang yang tidak baik. Bangsa ini butuh perubahan, perubahan untuk menuju ke arah Indonesia yang lebih baik lagi. Bangsa Indonesia ingin melihat suatu perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang. Kalau dari UN saja sudah tidak jujur, bagaimana nantinya?
            Mungkin sudah saatnya Kementrian Pendidikan harus mulai mengintropeksi sejauh mana kegiatan dari Ujian Nasional agar tidak membebani para pelajar, apakah bermamfaat atau tidak. Satu hal yang perlu menjadi catatan Kemendiknas bahwa bukan hanya Ujian Nasional yang membuat kualitas pendidikan suatu Negara menjadi lebih baik, akan tetapi kualitas yang dimiliki oleh para pelajar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar