Ujian Nasional,
Antara Kejujuran dengan Kebohongan
Tinggal
menghitung hari, ujian nasional akan segera datang kepada pelajar di seluruh
Indonesia, mulai dari SD sampai SMA. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aktivitas
para pelajar di Indonesia meningkat dari biasanya. Ya, mereka sekarang tengah
berkonsentrasi untuk bisa meraih hasil yang terbaik guna mencapai impian yang
mereka idam-idamkan. Terkhusus untuk siswa SMA menganggap bahwa ujian nasional
ini merupakan titik awal menuju petualangan yang nyata untuk meraih cita-cita.
Tetapi,
ujian nasional bukan hanya sekedar untuk meraih nilai tinggi, tetapi kekuatan
mental juga diuji disini. Belajar 3 tahun harus diselesaikan dengan ujian yang
hanya 3 hari, tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa yang akan
menjalaninya. Apalagi tingkat kesulitan dari ujian nasional dari tahun ke tahun
terus meningkat. Dari 1 paket, 2 paket, 5 paket, hingga sekarang sudah 20
paket. Tentu tidak jarang banyak anak sekolah yang merasa terbebani dengan
ujian nasional ini. Banyak dari mereka yang sangat keberatan dengan adanya
ujian nasional ini. Logikanya sangat sederhana, belajar 3 tahun harus
diselesaikan dengan ujian yang hanya menelan waktu 3 hari, tentu bukan perkara
yang mudah untuk menyelesaikan soal ujian nasional ini, karena disini siswa
dituntut untuk bisa meraih nilai yang terbaik supaya bisa lulus dari
sekolahnya. Makanya, tak jarang banyak siswa yang tidak lulus merasa frustasi
dan akhirnya memilih untuk menghabiskan nyawanya dengan bunuh diri sebagai
akibat dari rasa frustasinya. Sangat memprihatinkan memang melihat kejadian
seperti itu.
Ada
satu fakta menarik lagi yang selalu menjadi tradisi di kalangan siswa. Ya,
mencari selembar “kertas ajaib” untuk menyelamatkannya. Walaupun dari
Kementrian Pendidikan sendiri telah meningkatkan keamanan dari soal ujian
tersebut, tetapi selalu saja soal tersebut dapat bocor dan akhirnya sampai ke
tangan siswa. Fakta membuktikan dari tahun ke tahun hal ini selalu saja
terjadi.
Terkadang
hati ini bingung, apa yang harus dilakukan. Di satu sisi, hati ini tidak mau
melakukan perbuatan itu, tetapi di sisi lain ada sesuatu yang mencoba untuk
merasuki hati ini. Berbagai opini pun menyeruak ke kalangan publik dari
berbagai elemen masyarakat dengan upaya
untuk menghapus ujian nasional. Ya, ini merupakan sebuah cara agar kebohongan
tidak terus ditanamkan. Kita tidak ingin bangsa ini memperoleh generasi dari
orang-orang yang tidak baik. Bangsa ini butuh perubahan, perubahan untuk menuju
ke arah Indonesia yang lebih baik lagi. Bangsa Indonesia ingin melihat suatu
perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang. Kalau dari UN saja sudah tidak
jujur, bagaimana nantinya?
Mungkin
sudah saatnya Kementrian Pendidikan harus mulai mengintropeksi sejauh mana
kegiatan dari Ujian Nasional agar tidak membebani para pelajar, apakah
bermamfaat atau tidak. Satu hal yang perlu menjadi catatan Kemendiknas bahwa
bukan hanya Ujian Nasional yang membuat kualitas pendidikan suatu Negara
menjadi lebih baik, akan tetapi kualitas yang dimiliki oleh para pelajar.